30 Desember 2008

Sedikit Kutipan Dari Pentas Budaya

Antropologi sering dianggap sebagai disiplin yang "kurang ilmiah" sebab memakai metode berbicara langsung dengan masyarakat, dan memberi perhatian terhadap orang yang "tidak penting" di dunia ketiga atau kelompok pinggir dunia pertama. Status antropologi adalah cermin dari dekatnya cabang ilmu ini dengan mereka yang terpinggirkan akibat ketimpangan struktural yang terjadi pada masyarakat industri-kapitalis dengan aneka ragam masalah, seperti diskriminasi ras, ketaksetaraan gender, dan kemiskinan. Keakraban sang antropolog dengan kehidupan ghetto di perkotaan, pecandu minuman keras, penyalah guna narkoba, siasat hidup buruh, korban HIV, para migran, penghuni panti jompo, dan pengemis telantar menggeser kedudukan pengetahuan ini semakin ke "garis tepi".

Namun, di Indonesia, antropologi menempati posisi ganda. Meskipun antropologi dihargai sebagai ilmu yang berguna untuk "pencerahan", sebagian besar antropolog Indonesia melakoni hidup prihatin sebagai dosen atau pengajar dengan gaji yang serba pas- pasan dibandingkan dengan para ahli kedokteran atau ilmu politik-atau tentu saja politisi. Salah seorang teman dosen perguruan tinggi dengan tiga orang anak, ditambah tuntunan kredit rumah dan biaya SPP, mengakui dengan jujur bahwa jangankan mengajar, membaca buku kuliah saja tidak sempat karena sibuk mencari uang tambahan sebagai calo jual-beli mobil.

Dengan kesal dia mengeluh, "Karena masalah keuangan, beli buku anak- anak saya prioritaskan lebih dulu daripada beli publikasi baru." Antropolog-antropolog di dunia universitas juga menghadapi fasilitas minim dan ketiadaan perpustakaan yang memadai sebagai denyut jantung kehidupan universitas. Di sinilah salah satu dilema antropologi di Indonesia: punya posisi hegemonis karena memainkan peranan sentral dalam pembangunan sebagai peracik resep modernitas, ttapi dari sisi lain dianggap marginal arena bergumal dengan subkultur kehidupan mereka yang tak beruntung.

Dengan pendidikan dan harga diri yang begitu tinggi, banyak antropolog Indonesia sangat gampang ditarik dari kampus untuk mengabdi pada kapital. Begitu Pemerintah Indonesia berkeinginan menarik modal asing, antropolog menaruh minat pada jasa komersial. Mereka mengambil proyek penelitian yang disponsori oleh sektor swasta seperti perbankan, perusahan detergen, jaringan waralaba pramusaji, industri farmasi, maupun biro iklan yang ingin mengerti bagaimana menjual mi instan kepada suku-suku Papua yang lebih suka ketela dan sagu, atau bagaimana memasyarakatkan kondom, IUD, padi unggul, dan pupuk kimia.

Di Bali, antropologi juga bisa diuangkan lewat industri pariwisata. Kalau di zaman kolonial orang asing datang ke Bali untuk transaksi rempah-rempah dan budak, di zaman modern mereka datang membeli komoditas yang disebut kebudayaan dan para antropolog bisa berfungsi sebagai juragannya. Di Bali, untuk menyambut kedatangan sang pembawa devisa, berjamurlah sekolah pariwisata maupun perguruan tinggi yang menawarkan kurikulum "kebudayaan" yang dibidani oleh insan-insan akademis. Disinilah terletak benang kusut diskursif antara pengetahuan, takhta, dan uang.

Sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0407/07/Bentara/1126545.html

17 Desember 2008

Symbol in Ceremonial

Ketika ada seseorang yang meninggal, pada malam-malam saat akan diadakan acara mengaji, sampai hari yang ke tujuh semua lampu di rumah gadang dinyalakan sebagaimana layaknya dan sedikit terang dari hari yang biasanya. Namun pada hari yang ketiga di atas rumah gadang tersebut terdapat strongkeng. Selain itu di halaman rumah gadang juga terlihat sebuah strongkeng. Setelah upacara selesai lampu strongkeng tersebut tidak langsung dimatikan, tetapi dibiarkan hidup sampai suasana sudah mulai sepi. Sedikit berbeda dengan saat manigo hari, pada saat manujuah hari (manamatan kaji) lampu di rumah duka dihidupkan dan di halaman selain diterangi dengan listrik juga terdapat sebuah strongkeng.

Strongkeng yang ditampilkan pada hari-hari tertentu ini pada dasarnya mempunyai fungsi penerangan, akan tetapi ketika benda itu hanya ada pada hari-hari tertentu saja, tentunya menimbulkan pertanyaan tersendiri. Dari segi penggunaannya yang bersamaan dengan lampu listrik sebagai teknologi penerangan saat ini akan mengakibatkan benturan dari segi fungsi. Berangkat dari pertanyaan itu maka penulis berasumsi bahwa ada nilai-nilai (makna) tertentu yang tidak dapat diwakili oleh lampu listrik sebagai penerangan. Nilai-nilai (makna) yang terkandung di dalam strongkeng tersebut menjadikannya sebagai sebuah simbol yang mewakili “sesuatu” untuk menerangi “sesuatu” tersebut. Simbol dalam hal ini adalah hasil karya manusia yang lahir dari hasil interpretasinya terhadap kehidupan dan lingkungannya. Kemudian untuk melihat bagaimana makna dari keberadaan strongkeng itu, penelitian ini dilakukan. Tetapi secara holistik tetap dibahas keseluruhan proses upacara kematian tersebut, karena keseluruhannya merupakan satu kesatuan (kebudayaan sebagai sistem holistik).

Dalam konteks ini sebagai sesuatu yang memiliki makna, maka strongkeng dilihat sebagai sebuah simbol yang mencoba menjelaskan dan memperlihatkan sesuatu. Pada saat manusia berinteraksi dengan lingkungan dan aspek kehidupan lainnya, hal ini akan membentuk berbagai persepsi. Persepsi-persepsi tersebut kemudian disusun sedemikian rupa membentuk sebuah konsep. Konsep tersebut diberi bentuk dan dimaknai (simbol). Simbol tersebut pada awalnya hanyalah milik beberapa individu, setelah melalui proses sosialisasi dan mendapat kesepakatan bersama maka simbol tersebut secara tidak langsung menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.

Simbol strongkeng yang diuraikan disini lebih ditekankan pada bagaimana strongkeng sebagai teknologi masa kini dapat menjadi sebuah simbol dalam sebuah ritual yang cukup tua dalam kehidupan manusia, yang digali melalui aspek sejarah, sistem pengetahuan budaya, dan aktivitas-aktivitas yang dilakukan sehubungan dengan strongkeng itu sendiri. Selain itu penggunaannya yang bersamaan dengan lampu listrik sebagai teknologi penerangan saat ini akan mengakibatkan benturan dari segi fungsinya. Asumsinya adalah ada nilai-nilai (makna) tertentu yang tidak dapat diwakili oleh lampu listrik sebagai penerangan. Nilai-nilai (makna) yang terkandung di dalam strongkeng tersebut menjadikannya sebagai sebuah simbol yang mewakili “sesuatu” untuk menerangi “sesuatu” tersebut. Kemudian untuk melihat bagaimana makna dari keberadaan strongkeng itu, penelitian ini dilakukan. Tetapi secara holistik tetap dibahas keseluruhan proses upacara kematian tersebut, karena keseluruhannya merupakan satu kesatuan (kebudayaan sebagai sistem holistik).

Penelitian ini berangkat dari pemikiran, bahwa manusia adalah “homo symbolicum”. Artinya setiap tindakan manusia adalah simbol-simbol yang digunakan untuk berinteraksi. Selain itu penelitian ini juga berangkat dari cara pandang bahwa fenomena sosial budaya adalah “teks” yang dapat dibaca maksud dan tujuannya. Keberadaan strongkeng dalam upacara kematian di kenagarian Situmbuak kemudian dilihat sebagai sebuah “teks” yang sedang menceritakan sesuatu pada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang hasil akhirnya dibuat dalam bentuk deskriptif. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data, digunakan metode observasi partisipasi. Pengumpulan data lebih ditekankan pada teknik pengamatan dan wawancara. Pemilihan informan dilakukan dengan dua cara : pertama, sebelum penulis betul-betul turun ke lapangan, informan dipilih secara purposive, dengqan tujuan untuk mericek kembali fokus penelitian. Kedua, saat berada di lapangan informan didapat dengan cara adcident, dimana ketika saat berada di lapangan penulis ingin mendapatkan langsung data dari mereka yang terlibat dengan fenomena tersebut. mereka-mereka (informan) yang penulis temui di lapangan, kemudian lebih jauh di wawancarai ulang sehubungan dengan keterangan-keterangan mereka pada kesempatan sebelumnya. Semua informasi yang penulis dapatkan, untuk tingkat analisis, kemudian penulis diskusikan kembali dengan mereka-mereka yang telah ditetapkan pada awal penelitian, dan kemudian baru dituliskan dalam bentuk deskripsi.

Dari hasil penelitian ini kemudian terlihat bahwa strongkeng merupakan simbol untuk memperlihatkan sisi lain kehidupan masyarakat Situmbuak. Kebutuhan akan rasa tentram, aman dan damai baik di dunia nyata maupun “dunia lain”, merupakan sisi lain yang dimaksudkan tersebut. Daya kekuatan yang dimiliki strongkeng, bagi masyarakat Situmbuak dapat memberikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang mereka impikan tersebut. Strongkeng disini secara tidak langsung juga mencerminkan kepribadian masyarakat Situmbuak, yang pada dasarnya terbuka namun selektif terhadap berbagai teknologi baru yang masuk ke daerah mereka. Tentunya semua itu dalam rangka memperkaya diri dan tidak merubah tatanan nilai yang ada di dalam kehidupan sosial budaya masyarakatnya.

DOWNLOAD SELENGKAPNYA DISINI

http://www.ziddu.com/download/2609303/SimboldanUpacaraKematian.rar.html

Ethnotourism in News

Ethnotourism

Summary Tourism, conservation and farmers Possibilities and limitations of ecotourism promotion in livelihood systems 1. Developing countries have high expectations of the boom in worldwide tourism. The term ecotourism is used all over the world, but it is often used inconsistently and is identified with nature and adventure tourism. Ecotourism is different from nature tourism, which traditionally consumes many resources, in that it aims to have as little effect as possible on the local culture and the ambient environment of the holiday resort. Also, it aims to contribute to the improvement of the incomes of the local population and to the financing of the protected areas. Many forest reserves are the habitat for indigenous ethnic groups. Their social and cultural identity is the centre of attraction for ethnic tourism. 2. Ecotourism is one option to diversify the sustainable uses of tropical forest reserves and their buffer zones. Its effect on development is amplified if tourists demand locally produced goods and services from agriculture and small industries. There is a need to promote both these areas. 3. The demand for "hard-core" ecotourism seems to be limited. Therefore it often only generates seasonal, unskilled jobs for the local population. The social and cultural impacts of tourism can be serious, and they are difficult to control. 4. Clearly defined ownership and land rights, a stable social organisation and the acceptance of private initiatives within the rural sections of the population are good preconditions for the promotion of ecotourism. Planning of tourism at the national level and control by institutions for nature conservation are necessary prerequisites. 5. Village-level organisational development, consultation during the course of negotiations, safeguarding of common laws and functions to preserve resources of the villages are to be taken into account when supporting the promotion of ecotourism. To enable the local population to provide services, advisory services and education might be necessary. Complementary activities (farming, small industries) should be coordinated, promoted by corresponding advisory services and secured by negotiated trade conditions. Legal and political frameworks have to be validated on a national level. 6. A participative strategy development in five working steps is suggested. The potential for tourism is jointly assessed with stakeholder vi Tourism organisations, implementation partners and the local population. How this potential will be used as well as the distribution of rights and duties are negotiated. Consultation processes should happen before and during these negotiations within and between the villages involved. Also the roles must be clarified between tourism enterprises and projects. Negotiation and planning, implementation, evaluation and new planning mesh together in learning processes. The results of these processes should be discussed extensively. 7. The promotion of ecotourism has to be integrated into the strategies of regional and sectoral development. If there are too high expectations at the local level, "smaller solutions" will be rejected because of frustration. The promotion of ecotourism can be a balancing act between contradictory targets of the various partners and places high demands on the skills of moderation, negotiation and consultancy of the employees and partners of a project. Baca Lengkapnya Disini : www.turismrural.ro/pdf/EcoTourism.pdf