03 Maret 2008

Sampai kapan kita akan diperbodoh?

Sudah lebih dari 10 tahun kita mempunyai program wajib belajar 9 tahun, yang bertujuan untuk memeratakan kesempatan pendidikan bagi masyarakat tidak atau kurang mampu di Indonesia, selama lebih dari waktu itu pula kita berpolemik tentang pendidikan di negara ini, janji-janji partai dan calon-calonnya yang selalu mendahulukan pendidikan, kesehatan, bla,bla,bla... sudah lebih dari hampir sepuluh tahun pula kita mengalami masa reformasi, masa-masa yang katanya membawa perbaikan, perubahan terhadap kehidupan seluruh unsur masyarakat Indonesia, nyatanya???.. sadarkan kita bahwa dahulu kita mempunyai kelebihan sumber daya manusia yang berkualitas dalam segala bidang, sampai-sampai kita "mengekspor" guru ke negeri tetangga, tapi kini??jangan kan kita "mengekspor" guru, unutk memenuhi kebutuhan di negara ini saja tidaklah cukup, bahakn kita kini "mengimpor" guru dari negeri lain, dengan alasan-alasan yang penuh intrik.dan ijazah negeri ini hanyalah selembar kertas biasa di banding ijazah negeri lain, apa bedanya lembaran kertas dalam dan luar negeri?toh 70 % kertas dunia di olah oleh APRIL group, yang notabene berada di Indonesia. mungkin kita harus instropeksi diri tentang pendidikan yang kita alami dan jkuga pendidikan yang akan di alami oleh para penerus kita, jakam dahulu kita punya GURU, sekarang kita hanya memiliki PENGAJAR, guru..yang rela berjuang samapai pelosok negeri unutk menyebarkan keilmuannya dan pengetahuan yang dimilikinya, tak kenal lelah, tak kenal susah, tujuannya hanya mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsanya, tak takut berada di manapun juga, tak takut kekurangan apapun juga walau hanya di beri nafkah tak lebih dari Rp. 700.000 saja untuk membiayai hidupnya sebulan. jalani hari-hari dari tempatnya tingal ke sekolah, kadang melewati jalan yang terjal dan berliku, panas, hujan, tak peduli...lelahkah ia???tidak, kesegaran masih tersurat di wajahnya, yang kadang sudah tua dan terlihat garis-garis keriput di pipi dan bawah matanya..menyesalkah ia?tidak, walau kadang saat sampai di tempatnya mengajar tidak ada atap dan lantai kelas yang beralaskan tanah lempung..ia hanya menjalani kewajiban yang dirasakannya sebagai hak, menjadi seorang guru, menyebarkan pengetahuan tak peduli pada siapapun.. tapi kini, sosok itu sulit ditemui, yang ada hanya PENGAJAR-PENGAJAR, pengajar yang tahunya mengajar, pengajar yang memiliki kewajiban untuk mengajar, pengajar yang merupakan pekerjaan untuk memenuhi biaya hidupnya, pengajar yang tak mau berada di daerah pelosok, yang hanya tahu berangkat mengajar dengan kendaraan pribadi dan sampai di kelas yang beralaskan keramik beratapkan gypsum..pengajar yang hanya ada saat waktu belajar.. yah, saat ini semua bertolak ukur ke ekonomi, mengejar uang, uang dan lagi-lagi uang...punya uang, punya kesempatan, bisa belajar, bisa pintar, bisa kaya..tidak punya uang, tidak ada kesempatan, tidak bisa belajar, kurang wawasan , nggak bisa kaya..yang kaya tambah kaya. yang miskin tambah miskin, yang pintar makin pintar yang bodoh kian di perbodoh..hanya karena mereka tak di beri kesempatan.. beberapa tahun terakhir kita di beri sedikit harapan dengan di naikkannya anggaran pendidikan sampai 20% dari APBN dan APBD, tapi kini..semua itu di potong sampai 15%, oleh wakil rakyat, oleh pemerintah.. terhempaskah kita?tidak semua, karena yang punya uang kian bangga, yang pintar kian sulit di tanya, karena pendidikan itu mahal!!!, tidak semua mampu merasakannya.. haruskan selalu seperti ini wajah pendidikan kita??