03 Maret 2008
Personifika-realis ”Black Hole”
Lubang hitam adalah bintang yang sudah mati dan mengerut. Bintang pada dasarnya, seperti bola yang menggelembung karena dipompa ledakan-ledakan nuklir di dalamnya. Bila bintang menjadi tua, dan kehabisan bahan bakar nuklirnya, ia akan mengerut jadi jauh lebih kecil. Kalau pengerutannya cukup banyak, bekas bintang itu akan menjadi sangat padat dan memiliki gravitasi yang sangat kuat, sehingga akan membuatnya makin mengerut lagi sampai menjadi sangat padat dan sangat kecil -garis tengahnya hanya beberapa kilometer, dan menjadi lubang hitam. Tak ada benda lain di alam ini yang lebih padat daripada lubang hitam.
Mereka hitam bukan karena sudah mati, tapi mereka hitam karena menyerap seluruh cahaya. Lubang hitam memiliki gravitasi yang begitu besar, sehingga tidak ada yang bisa melepaskan diri dari tarikannya. Seperti vacuum cleaner, semua gas, debu, bahkan cahaya di ruang antar bintang ditelannya. (Crichton, 2002:146-147)
Dalam dunia manusia ada yang dinamakan kanibal yang sering disebut manusia pemakan manusia, sepertinya itu juga terjadi pada bintang-bintang, lama-kelamaan bila banyak bintang yang sudah tua maka ruang angkasa menjadi medan kosong dari benda-benda, karena semua terhisap oleh lubang hitam. Tapi di sini justru muncul harapan hidup baru di alam yang baru pula, karena lubang hitam katanya juga lorong waktu. Jadi kemungkinan kita akan bisa hidup di waktu lampau dan kemudian memperbaiki kecerobohan kita terhadap alam, hingga bencana dan eksploitasi lingkungan bisa minim, hingga alam lestari lebih lama. Atau malah kita terlempar ke kehidupan masa depan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya seperti yang banyak digambarkan dalam film-film yang bertema future life. Bahkan mungkin teori reinkarnasi jadi benar adanya. Lalu bagaimana dengan konsep akhir dunia yang banyak dipercayai umat-umat beragama di dunia, karena berarti kehidupan ini siklusnya takkan berakhir, sampai pada suatu keyakinan bahwa dunia ini sangat sementara (bagi kaum imanen).
Kecanggihan berfikir manusia bahkan sampai pada taraf bagaimana suatu saat bisa membawa pulang lubang hitam itu dan dikendalikan hingga menjadi sumber energi pengganti kotoran hewan dan tumbuhan atau dijadikan senjata yang maha canggih. Karena dengan daya hisapnya yang terbilang tak terbatas itu ia bisa membersikan suatu kota dalam waktu singkat. Bukan tak mungkin hal tersebut terjadi, karena beberapa puluh tahun terakhir ilmuwan astrofisika mendeteksi adanya lubang hitam disekitar tata surya kita. Suatu saat mungkin akan ada perang dengan senjata lubang hitam, saling hisap satu dengan yang lain, hingga mungkin nanti akan ada yang berburu lubang hitam di ruang angkasa dan dijual sebagai barang mahal di muka bumi ini, kemudian pada akhirnya lubang hitam akan dijual di kaki lima di setiap kota di dunia.
Lubang hitam sebetulnya tepi alam semesta. Apa yang terjadi di sana, tak seorangpun tau. Tapi ada yang berpendapat orang tidak menembus lubang hitam, melainkan melenting di permukaannya, seperti kerikil melenting di permukaan air, dan kau jadi berpindah ke waktu, ruang atau alam raya yang berbeda (207) Saat ini lubang hitam sudah menjadi personifikasi dari tidak hanya benda nyata, tapi untuk terminologi ilmiah abstrak yang menggambarkan sesuatu yang punya daya kekuatan menghisap, seperti lubang hitam itu. Daya hisap yang dimaksud di sini adalah daya hisap yang sangat luar biasa, karena tidak ada yang bisa melepaskan diri dari daya hisapnya bila suatu objek sudah masuk dalam jangkauannya. Dalam konteks ilmiah-sosial hal itu dipakai oleh Hikamat Budiman untuk menguraikan fenomena sosial, yang lebih khususnya adalah kebudayaan dan media massa. Dua hal tersebut saat ini sudah menjadi dogma sosial yang abadi dan tidak satupun mahluk manusia yang bisa melepaskan diri dari dua hal tersebut, dan dua hal tersebut satu sama lain saling menguatkan. Hikmat Budiman mengatakan dengan bahasa yang sangat fantastis :
“Bagian terbesar dari kita kini tinggal sebagai gerombolan massa, mayoritas bungkam, sebuah lubang hitam yang menyerap overproduksi energi dan informasi dari media dan yang secara antusias melahap permainan memikat tanda-tanda yang tanpa akhir. Akibatnya lebih jauh, distingsi antara pelbagai budaya menyingkir memberi jalan bagi segerombolan massa yang sangat besar yang bersimulasi dan bermain dengan overproduksi tanda-tanda”. Lubang hitam kebudayaan
Manusia pada akhirnya akan terjerat pada fragmentasi tanda/simbol yang melalui media massa dirasukkan ke dalam kepala manusia. Pada saat ini manusia akan selalu terjebak dalam budaya/yang dibudayakan, baik oleh diri atau orang lain. Berputar di dalamnya tanpa bisa keluar lagi dari jangkauannya sampai mati , karena saat ini itulah dunianya. Kompleksitas diri manusia banyak yang terbelah pecah, hingga saat ini bukan seperti yang dulu atau kemarin. Dunia yang berbeda, karena tersedot ke dalam lubang hitam (budaya dan media massa). Kebudayaan membuat manusia, mengatasi alamnya. Terciptalah simbol sebagai respon dari tantangan alam yang melingkupi manusia tersebut. Hampir setiap orang memakai lambang atau simbol tanpa banyak fikir atau bahkan menyadarinya. Secara sepontan di sebar dalam hubungan dengan orang lain dan arti/maksudnya langsung ditangkap/terkadang juga tidak./dimanipulasi. Seorang lelaki memberikan bunga kepada kekasihnya sebagai tanda cinta, atau ciuman seorang anak kepada ayahnya diwaktu ultahnya juga sebagai pertanda cinta kasih, serta upacara-upacara simbolis yang menyertai kehidupan manusia. Singkatnya, kebutuhan dasar manusia yang tidak bisa ditinggalkan adalah kebutuhan akan simbol seperti halnya makan, melihat atau berpindah tempat. Bagi manusia membuat simbol adalah aktivitas primer.
Simbol adalah hasil operasi daya-penilaian (Urkeilkraft). Simbol berakar dalam akal manusia (imanen), tetapi sekaligus dapat menunjuk kepada yang transenden. Artinya, simbol pada Kant adalah skema tidak langsung yang mengungkap “yang transenden” yang mengatasi kategori-kategori akal. Simbol menunjuk ke “yang lain-sama sekali”, simbol berkata tentang relasi dengan yang transenden. (Dibyasuharda, 1990:51) Manifestasi serta karakteristik simbol tidak terbatas pada isyarat fisik, tetapi dapat juga berwujud penggunaan kata-kata, yakni simbol suara yang mengandung arti bersama serta bersifat standar. Singkatnya, simbol berfungsi memimpin pemahaman subjek kepada objek. Dalam makna tertentu, simbol acap kali memiliki makna mendalam, yaitu suatu konsep yang paling bernilai dalam kehidupan suatu masyarakat. (Yudha, 200:7). Pada akhirnya simbol merupakan suatu fenomena yang tidak terlepas dari unsur-unsur universal kebudayaan (ide/gagasan, prilaku, hasil karya).
Pada awalnya fenomena kebudayaan adalah fenomena yang paling wajar, karena manusia adalah mahluk yang berbudaya. Apa yang difikirkan, dilakukan atau dihasilkan adalah perwujudan kebudayaan dalam dimensi ruang yag sangat luas. Walaupun sampai saat ini istilah kebudayaan hanya sebagai referensi bahasa yang bagi kalangan umum tak banyak memberi arti, atau hanya untuk memperindah kata ketika menyebut sebuah keunikan dari prilaku manusia yang berdomisili di bumi. Apa ada yang terbantahkan bahwa manusia tidak akan bisa lepas dari jangkauan kebudayaan dunia yang semakin kompleks, ketika sekat-sekat teritorial dan kultural antar bagsa da negara semakin kabur/tiada arti.
Sebuah fenomena sosial/kultural di suatu negara bisa diakses oleh negara lain dalam hitungan detik, hal ini karena peran media massa (media tulis dan elektronik). Hingga saat ini media menjadi raksasa yang bisa mencaplok hampir seluruh kisi-kisi kehidupan manusia di bumi, dari lahan privat sampai kepada lahan umum atau bahkan hal yang paling rahasia sekalipun. Tapi raksasa ini bukan tidak mempunyai ekses yang positif, karena dengan informasi yang mereka ekspose, pemikiran manusia semakin maju, karena terpacu dengan apa yang mereka baca dan mereka melihat kemajuan manusia lain, persaingan menjadi hal yang terelakkan.
Terlepas dari hal positif media, dalam konteks ini saya akan banyak menela’ah tentang efek media dalam dimensi kritisnya yang cenderung negatif. Media dengan kekuatan mempengaruhinya, menjadi mesin pembunuh yang efektif/paling kurang melegitimasi sebuah penghancuran/pembunuhan massal sekalipun. Hal ini bisa terbukti dengan kejadian di Irak (Bagdad) yang menjadi bulan-bulanan Amerika, karena diopinikan ke publik oleh Amerika, bahwa Irak menyimpan senjata kimia yang membahayakan dunia. Dunia dipengaruhi oleh Amerika melalui media, hingga publik dimanapun dijejali berita itu. Hingga yang ada di kepala publik, adalah Irak dengan senjata kimia dan membahayakan dan terfikirlah untuk memberi pembenaran terhadap propaganda Amerika. Membenarkan adalah hal yang paling realistis yang bisa dilakukan, karena kekuatan tidak berarti apa-apa bila opini tersebut sudah tertanam di kepala-kepala manusia di dunia. Apa yang menjadi kekuatan utama Amerika adalah media (media raksasa) yang fakta-faktanya (terlepas benar atau tidak) sering menjadi sabda bagi pengambil kebijakan Amerika, dan akibatnya bisa dirasakan oleh seluruh dunia.
Decak kagum dan bergidik mengerikan adalah hal yang paling banyak dilakukan manusia dalam menanggapi perkembangan media massa yang sangat pesat. Etika-etika media menjadi klise ketika media massa menjadi alat bagi kepentingan individu atau kelompok tertentu. Idealisme, objektivitas menjadi sangat mahal harganya di dunia media yang menjadi perusahaan pencetak uang bagi pemiliknya. Reputasi media saat ini dipertaruhkan, karena dunia materi ini seperti tidak memberi ruang untuk seseorang/kelompok untuk menyerukan hal yang berguna bagi kemaslahatan umum, kalau hal itu akan mengganggu ketenangan dan ketentraman penguasa/pengusaha mbeling.
Hal yang yang paling kritis adalah adalah ketika ada kebudayaan yang sangat dominan yang menguasai manusia, hingga kebudayaan lain sekarat atau mati. Lebih parah bila kebudayaan itu dimanfaatkan oleh kelompok orang untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya, dan manusia diperbudak oleh nilai-nilai budaya tersebut dan tidak menghiraukan lagi apakah nilai-nilai tersebut baik bagi diri dan lingkungan atau orang lain disekitarnya. Media massa dan kebudayaan barat mendekati kecenderungan ke arah itu karena semua orang seperti terhipnotis dan larut di dalamnya, media massa seperti menjadi Tuhan yang memberi segalanya dan kebudayaan barat menjadi referensi suci yang dijadikan pedoman hidup……Miris, teriris dan sadis, jiwa kita menjadi lembaran-lembaran tipis dan terkikis oleh nilai-nilai yang yang kita anggap logis. Mampukah kita menyumbat lubang hitam itu Atau kita kendalikan dengan baik demi kebaikan bersama. Pilihan lain, kita sama-sama bersepakat untuk masuk ke “lubang hitam”, supaya kita bisa mendapatkan dunia lain yang berbeda.
*Personifika-realis:Saya bahasakan sebagai perumpamaan sebuah realitas/pandangan (konteks Black Hole)
Kasus: Kebudayaan dan Media Massa
Oleh : Edi Sucipto
Michael Crichton, Sphere/Bola Asing,Jakarta : PT. Gramedia 2002
Hikmat Budiman, Lubang Hitam Kebudayaan, Yogyakarta : Kanisius 2002
Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S.,Teori Tentang Simbol, Jakarta : Widya Dharma 2000.
