20 Mei 2008
Kesepian dan Interpersonal
Pada hakekatnya, manusia adalah makhluk sosial. Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangannya, kebutuhan sosial menjadi semakin rumit dan beraneka ragam. Keinginan untuk berada dekat dengan orang lain, memberikan seseorang kegembiraan, memperoleh pertolongan, menjalin keakraban, berbagi kesenangan, mendapatkan pujian dan sebagainya.
Emosi adalah hal yang tak pernah lepas dari kehidupan manusia, mulai dari rasa bahagia hingga duka, sayang benci, sepi dan rindu, dan semua rasa itu hadir silih berganti..
Banyak orang muda yang semenjak masa kanak-kanak dan remaja terbiasa tergantung pada persahabatan dalam kelompok. Mereka merasa kesepian sewaktu tugas-tugas mereka dalam rumah tangga / pekerjaan, memisahkan mereka dari kelompok. Havighurst ( Hurlock, 1980) menjelaskan bahwa rasa kesepian pada dewasa dini terjadi karena masa ini merupakan “periode yang relatif kurang terorganisir dalam kehidupan seseorang, yang menandai transisi dari lingkungan yang terbagi menurut status sosial”. Masa dewasa dini merupakan masa kesepian saat dimana penyesuaian radikal harus dilakukan dalam setiap bidang kehidupan.
Kesepian adalah salah satu bentuk dari kerumitan atau kesulitan seseorang dalam mencapai kebutuhan sosial. Tidak semua orang dapat melepas diri dari derita kesepian. Pada usia dewasa awal , kehidupan diwarnai dengan transisi sosial yang menganggu hubungan pribadi dan menyebabkan timbulnya kesepian. Biasanya derita kesepian yang banyak dialami di usia dewasa awal adalah lantaran ketika mereka ditinggal / berpisah dengan orang-orang yang pernah dicintai
A. Kesepian
1. Definisi Kesepian
Robinson (1994) memaparkan bahwa keadaan loneliness tidak selalu diidentikkan dengan keberadaan seorang diri. Contohnya, banyak orang yang merasa loneliness meski berada di antara ratusan penonton yang memadati pertandingan sepak bola. Beliau mendefinisikan loneliness sebagai sebuah kesadaran menyakitkan dimana individu merasa tidak terhubung dengan baik pada individu lain (not feeling connected to others), dan kebutuhan-kebutuhannya tidak terpenuhi. Individu dapat merasa loneliness karena terisolasi, namun dapat pula merasakan loneliness di tempat ramai. Individu juga bisa loneliness karena merasa tidak punya teman, atau tidak bisa terus bersama-sama dengan orang terdekat (Bernikow,1982).
Tiga pendekatan utama mengenai kesepian berdasarkan pada pendapat beberapa tokoh, seperti Erich Fromm, Sullivan, Weiss, Zilborg dan lain-lain, yaitu : (Muhammad Sabran, 2003, skripsi sarjana psikologi UIN).
a. Need for Intimacy (kebutuhan akan kedekatan/keakraban)
Pendekatan ini menitikberatkan pada faktor keakraban. Menurut pendekatan ini, kesepian adalah akibat dari tidak terpenuhinya kebutuhan akan keakraban dengan orang lain.
b. Cognitive Process (proses kognitif)
Menurut pendekatan ini kesepian merupakan hasil dari persepsi dan evaluasi individu terhadap hubungan sosial yang dianggap tidak memuaskan. Menurut Sermat, kesepian timbul akibat adanya perbedaan antar jenis hubungan yang dialami individu pada saat itu dengan jenis hubungan yang dia inginkan.
c. Sosial reinforcement
Dalam pendekatan ini, hubungan sosial yang memuaskan dapat dianggap sebagai suatu bentuk reinforcement dak ketiadaan reinforcement ini dapat menimbulkan kesepian.
Walaupun dalam mendefinisikan kesepian terdapat beberapa pendekatan, namun sebenarnya ketiga pendekatan tersebut berhubungan satu sama lain dan terdapat keseragaman dalam memandang kesepian.
2. Penyebab Kesepian
Penyebab kesepian, diantaranya adalah kehilangan suatu hubungan, perasaan tidak diinginkan dan berbeda dari orang lain, kondisi keadaan yang memaksa kita, hubungan pertemanan yang miskin di masa kecil, sifat pemalu, ketidakmampuan bersosialisasi, self esteem yang rendah, sulit membuka diri, dan terbatasnya teman, nilai masyarakat yang dianut (misal: budaya kompetisi yang tinggi dan kemandirian).
3. Tipe Kesepian
Dalam bukunya yang berjudul Psikologi Sosial (David O. Sears,1985), Robert Weiss (1973) membedakan dua tipe kesepian, berdasarkan hilangnya ketetapan sosial tertentu yang dialami oleh seseorang. Yaitu :
a.) kesepian emosional, timbul dari ketiadaan figure kasih sayang intim, seperti yang bisa diberikan oleh orang tua kepada anaknya atau yang bisa diberikan tunangan atau teman akrab pada seseorang.
b.) Kesepian sosial, terjadi bila orang kehilangan rasa terintegrasi secara sosial atau terintegrasi dalam suatu komunikasi, yang bisa diberikan oleh sekumpulan teman atau rekan sekerja.
B. Hubungan Interpersonal
1. Pengertian Hubungan Interpersonal
Mudjiran (1995) menegmukakan bahwa hubungan interpersonal adalah adanya hubungan yang terjadi anta manusia dengan manusia. Sedangkan Musa memberi pengertian yaitu segala bentuk interaksi antara dua orang atau lebih.
Pengertian segala bentuk interaksi tersebut tidak hanya menyangkut bentuk-bentuk dalam interaksi actual atau eksplisit, namun mencakup juga bentuk-bentuk interaksi implicit atau yang masih berbentuk antisipatif . Hal ini dapat dipahami karena pada saat seseorang bersiap melakukan interaksi ataupun sadar seketika bahwa ia sedang berada dalam situasi antarpribadi, maka di dalamnya telah terjadi pergeseran perhatian. Dan akhirnya, interaksi implicit yang menimbulkan pergesaran perhatian tadi akan menentukan individu untuk segera menetukan sikap dan tindakan terhadap pihak lain dikenal atau tidak. Karena itu bentuk interaksi implicit dapat digolongkan sebagai perilaku terselubung.
Dalam kamus Psikologi (Chaplin,1999), interpersonal adalah :
1. segala sesuatu yang berlangsung antara dua pribadi
2. mencirikan proses-proses yang timbul sebagai suatu hasil dari interaksi individu dengan individu lainnya.
3. sosial.
Erickson menjelaskan bahwa selama masa dewasa dini, perkembangan kematangan psikososial itu dapat diukur berdasarkan keberhasilan seseorang dalam memecahkan krisis yang dikenal sebagai keintiman lawan isolasi (intimacy vs isolation), karena sebelum masa dewasa muda seseorang telah mengalami peristiwa krisis identitas dan krisis ini berlaku ketika masa dewasa datang.Dengan kurang lebih mengetahui siapa diri mereka, seseorang dewasa muda memasuki hubungan baru, karena tanggung jawab bertambah yang merupakan pengalaman dengan konflik-konfliknya sendiri (Lela Nurlaela, 2001. skripsi).
Merujuk pada teorinya, David O.Sears…( 1985 ). Kesepian menunjuk pada kegelisahan subjektif yang kita rasakan pada saat hubungan social kita kehilangan ciri-ciri pentingnya. Hilangnya ciri-ciri ini bisa bersifat kuantitatif, seperti : kita mungkin tidak mempunyai teman/ hanya memiliki sedikit teman- tidak seperti yang kita inginkan. Tetapi kekurangan itu dapat juga bersifat kualitatif : kita mungkin merasa hubungan kita dangkal/kurang memuaskan dibandingkan dengan apa yang kita harapkan. Kesepian terjadi di dalam diri seseorang dan tidak dapat dideteksi hanya dengan melihat orang itu.
Dalam penghitungan mengenai prosentase kesepian menunjukan sebagian besar yang berada pada taraf sedang yaitu sekitar 60 % (18 orang), sedangkan yang berada pada taraf rendah hanya sekitar 40% (12 orang). Hasil ini bukan berarti bahwa mereka yang kesepian memiliki interpersonal relationship yang rendah.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. (2003). Manajemen Penelitian. Jakarta : PT. Riveka Cipta.
Azwar, Saifudin (1999). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Chaplin C.P. (1997). Kamus lengkap Psikologi_(terj.) Jakarta : Raja Grafindo.
Hurlock, Elizaberth B. (1980). Psikologi Perkembangan (suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan) edisi kelima. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Jajaludin, Rakhmat. (2000). Psikologi Komunikasi (edisi revisi). Bandung : PT. Remaja RUSDA KARYA.
Lela Nurlaela. (2001). “Sumber-sumbe Stress Pada Dewasa Muda Yang Akan Manikah”. Skripsi sarjana Psikologi UIN. Jakarta : Pepustakaan UIN.
Sabran, Muhammad. (2003). “Perilaku Coping Terhadap Kesepian yang Dialami Anak Jalanan”. Skripsi Sarjana Psikologi UIN. Jakarta : Perpustakaan UIN.
Prof. Dr. H. Ramayulis. (2002). Psikologi Agama. Jakarta : Kalam Mulia.
Reni Maryani. (2004). “Hubungan Antara Interaksi dalam keluarga Dengan Kemampuan Interpersonal Relationship Pada Remaja”. Jakarta : Perpustakaan UIN.
Sears. O, David et. All. (1985). Psikologi Sosial, edisi kedua jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga.
